Kejernihan Motivasi Kunci
Haji Mabrur
Budiman Sulaeman,
S.Ag., M.H.I
Mabrur adalah dambaan setiap jemaah haji. Namun, perilaku
haji mana yang layak didefinisikan sebagai haji mabrur? Tidaklah semudah
membalik telapak tangan menjawab pertanyaan ini. Sebab, kemabruran ibadah haji
tidak ditentukan oleh amalan manasik yang dilakukan secara paripurna di tanah
suci. Lebih dari itu, faktor motivasi atau niat dari pelaku haji dan
kreativitas serta kemampuan mengaktualisasikan dan mempraktekkan nilai-nilai
haji dalam kehidupan nyata, juga tidak dapat dilupakan. Malahan, faktor inilah
yang sangat menentukan seseorang berhak menyandang gelar haji mabrur.
Untuk meraih prestasi
haji mabrur, memang membutuhkan perjuangan sungguh-sungguh dan pengorbanan
tiada tara . Proses menuju ke arah itu sangat berliku
dan bergelombang. Namun, ganjarannya cukup wajar, jaminan surga. Nabi SAW.
bersabda: al-hajjul mabrûru laysa lahû jazâ’un illal jannah.
Artinya:
“Haji mabrur [yang
sarat dengan kebajikan] tidak ada ganjarannya, kecuali kenikmatan surga).”
Jika kita ibaratkan
menapaki anak tangga, maka ‘penderitaan’ fisik dan psikis saat merasakan beragam
ritual haji di tanah suci baru berada pada anak tangga pertama.
Memang, perjalanan
spiritual haji memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan ibadah lainnya.
Keunikan itu dapat dilihat pada ayat-ayat yang mewajibkan ibadah haji. Perintah
melaksanakan ibadah haji “diawali” kata “wa
lillâh” (QS. Ali Imran [3]:97):
Ϭ!ur n?tã Ĩ$¨Z9$# kÏm ÏMøt7ø9$# Ç`tB tí$sÜtGó$# Ïmøs9Î) WxÎ6y 4 `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî Ç`tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÒÐÈ
Artinya:
“Mengerjakan
haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji),
maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Selain itu, perintah pelaksanaan
ibadah haji diakhiri kata “lillâh” (QS. al-Baqarah
[2]:196):
(#qJÏ?r&ur ¢kptø:$# not÷Kãèø9$#ur ¬! 4 ÷
Artinya:
“Dan
sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah”.
Dari sini dipahami bahwa ibadah haji harus menjadi
sebuah manifestasi kepatuhan kita kepada Allah semata, pra (sebelum), post
(saat), pasca (sesudah) pelaksanaan
ibadah haji. Dengan kata lain, motivasi itu harus terus dijaga, sebelum
berangkat ke tanah suci, saat melaksanakan ibadah haji, dan sesudah kembali ke
tanah air.
Selain itu, adanya pengulangan kata “lillâh” dalam kaitannya dengan perintah ibadah haji
menunjukkah bahwa terdapat banyak motivasi yang menggerakkan seseorang untuk
melaksanakan rukun Islam kelima ini.
Ironisnya, seluruh motivasi itu berada di luar koridor
“lillâh”. Itulah sebabnya, Allah sejak awal memberi peringatan
kepada manusia agar dalam melaksanakan ibadah haji harus dilandasi oleh
motivasi “lillâh”.
Memang Nabi SAW. pernah membuat sebuah prediksi adanya
kecenderungan perbedaan motivasi seseorang dalam menjalankan ibadah haji.
Beliau bersabda: kâna fî âkhiriz zamâni kharajan-nâsu lil hajji arba’atu ashnâfin, salâthînuhum lin-nuzhati,
wa aghniyâuhum lit-tijârati, wa ‘ulamâuhum lis-sum’ati, wa fuqarâuhum lil mas’alati. Artinya, pada akhir zaman, orang-orang pergi
menunaikan ibadah haji menjadi empat kelompok; 1) kelompok penguasa atau elit
masyarakat pergi menunaikan haji karena dorongan untuk melakukan wisata (wisata
haji); 2) kelompok kaya atau konglomerat berangkat haji lebih disebabkan karena
tujuan bisnis; 3) kelompok ulama atau cendekiawan berangkat haji karena mencari
popularitas; 4) kelompok orang-orang fakir berangkat haji karena ingin mencari
bantuan dan sumbangan.
Dalam al-Hikam, Ibn ‘Athâ’illâh dalam bahasa
yang berbeda mengatakan: tanawwa’at ajnâsul a’mâli li tanawwu’i wâridâtil ahwâl. Artinya, amal itu
beragam lantaran beragamnya keadaan yang menimpa hati.
Misalnya, seseorang amat bernafsu pergi ke tanah suci
hanya demi perbaikan dan peningkatan status sosial sekaligus untuk menunjukkan
prestasi ekonomi di tengah masyarakatnya. Bagi masyarakat Indonesia, seorang
haji sering sekali mendapat perlakuan istemewa di tengah komunitasnya,
khususnya di kampung-kampung. Lebih parah lagi, ada yang berlomba-lomba
menunaikan ibadah haji hanya karena ingin disebut “Pak Haji” dan “Bu Haji”.
Sesungguhnya, gelar haji yang dilekatkan di depan nama
seseorang yang telah menunaikan ibadah haji, dalam pandangan penulis, dimaksudkan
agar si pemilik nama dalam melakoni seluruh aktivitasnya setelah kembali ke
tanah air, selalu berupaya keras untuk menghadirkan bayang-bayang perjalanan
spiritualnya yang sarat dengan nuansa religius saat berada di tanah suci.
Akhirnya, kunci haji mabrur terletak pada kejernihan
motivasi pelaku haji, sebelum, saat, dan setibanya di tanah air untuk kembali
melakoni kesehariannya. Wallâhu a’lam.
1. QS. al-Waqi’ah [57]:88-89
!$¨Br'sù bÎ) tb%x. z`ÏB tûüÎ/§s)ßJø9$# ÇÑÑÈ
Adapun jika Dia (orang yang mati) Termasuk orang-orang
yang didekatkan (kepada Allah).
Óy÷rtsù ×b$ptøuur àM¨Zy_ur 5OÏètR ÇÑÒÈ
Maka Dia memperoleh ketenteraman dan rezki
serta jannah kenikmatan.
2. QS. At-Takwir
[81]:26
tûøïr'sù tbqç7ydõs? ÇËÏÈ
Maka ke manakah kamu akan pergi[1560]?
[1560] Maksudnya:
sesudah diterangkan bahwa Al- Quran itu benar-benar datang dari Allah dan di
dalamnya berisi pelajaran dan petunjuk yang membimbing manusia ke jalan yang
lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu: "Jalan manakah yang
akan kamu tempuh lagi?"
3. QS. Ash-Shaffaat
[37]:99
tA$s%ur ÎoTÎ) ë=Ïd#s 4n<Î) În1u ÈûïÏökuy ÇÒÒÈ
Dan
Ibrahim berkata:"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia
akan memberi petunjuk kepadaku[1282].
[1282] Maksudnya: Ibrahim pergi ke suatu negeri untuk dapat
menyembah Allah dan berda'wah.
4. QS. al-Insaan
[76]:24
÷É9ô¹$$sù È/õ3ßÛÏ9 y7În/u wur ôìÏÜè? öNåk÷]ÏB $¸JÏO#uä ÷rr& #Yqàÿx. ÇËÍÈ
Maka
bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu
ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.
Aatsiman = mudaawan alar tikaabil ma’aatsimi wal
ma’aashii (terus-menerus
melakukan dosa & pelanggaran; tenggelam dalam lautan kedurhakaan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar